blog (4)

74% Pengguna Media Sosial Alami FOMO, Gen Z Paling Rentan

Takut ketinggalan tren bukan sekadar perasaan biasa. Riset membuktikan ini adalah respons psikologis nyata yang diperkuat oleh algoritma media sosial dan Generasi Z berada di garis terdepan.

cuplikan layar 2026 05 21 213131

Bengkulu, Pernahkah kamu merasa gelisah saat membuka media sosial dan mendapati teman-temanmu sudah mencicipi restoran viral terbaru, hadir di konser yang ramai diperbincangkan, atau mengenakan outfit yang sedang tren—sementara kamu tidak? Perasaan itu bukan sekadar iri biasa. Fenomena itu disebut Fear of Missing Out (FOMO), dan ia kini menjadi salah satu tekanan psikologis paling nyata yang dihadapi Generasi Z.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Social and Clinical Psychology menunjukkan bahwa sebanyak 74 persen pengguna media sosial aktif mengalami FOMO secara rutin. Yang paling mengkhawatirkan: Generasi Z—mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012 dan tumbuh beriringan dengan algoritma media sosial—menempati posisi teratas dalam kelompok yang paling rentan.

Akar Masalah:

FOMO bukan fenomena baru. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh peneliti Andrew Przybylski dan timnya pada 2013, yang mendefinisikannya sebagai rasa khawatir bahwa orang lain sedang menjalani pengalaman yang lebih memuaskan tanpa kehadiran kita. Namun dalam satu dekade terakhir, intensitas FOMO meningkat drastis seiring meledaknya penggunaan platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube. Penyebabnya tidak semata-mata soal konten yang kita konsumsi, melainkan bagaimana algoritma merancang pengalaman tersebut. Setiap kali pengguna membuka aplikasi, sistem secara otomatis menyajikan konten yang paling relevan dengan minat—sekaligus paling memancing keterlibatan emosional. Hasilnya, feed yang kita lihat bukan cermin kenyataan, melainkan representasi yang tersaring dan termagnifikasi dari kehidupan orang lain.

FOMO adalah fenomena yang nyata, kompleks, dan terus berkembang seiring evolusi media sosial. Bagi Gen Z yang tumbuh dalam ekosistem digital ini, memahami akar psikologis FOMO bukan sekadar pengetahuan akademis—melainkan bekal untuk menjalani kehidupan digital yang lebih sehat dan lebih sadar.Sebab pada akhirnya, kehidupan yang paling bermakna tidak selalu yang paling banyak ditampilkan di layar.

Yuliantika Alfariza  (D1E023095)


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *