BENGKULU, 19 Mei 2026 Kalau kamu main ke area kampus belakangan ini, ada satu pemandangan unik yang sering tertangkap mata. Di sela-sela nongkrong atau ngerjain tugas, para mahasiswa nggak cuma sibuk memegang iPhone boba atau kamera mirrorless mahal. Di tangan mereka, terselip sebuah barang mungil bin jadul yang sempat terlupakan: kamera digicam (digital camera) rilisan tahun 2000-an awal atau handycam kaset.
Fenomena ini bukan sekadar lewat. Tren estetika analog kini resmi booming parah, membuat lini masa media sosial dipenuhi oleh hasil jepretan yang agak blur, overexposed, tapi entah kenapa kelihatan sangat keren dan aesthetic.
Bosan dengan Kesempurnaan Kamera Smartphone
Bagi Gen Z yang lahir di era teknologi serba sempurna, kamera smartphone dengan resolusi ratusan megapiksel justru mulai terasa membosankan. Gambar yang terlalu tajam, terlalu bersih, dan terlalu terprediksi dinilai kehilangan “jiwa”. Sebaliknya, kamera saku jadul menawarkan the flawed aesthetic. Efek flash yang bikin muka agak pucat, noise (bintik-bintik) di area gelap, dan tone warna yang hangat justru menjadi nilai jual utama yang dicari untuk mempercantik feeds Instagram atau TikTok.
Selain faktor visual, ada kepuasan tersendiri yang dicari oleh mahasiswa dari prosesnya yang lambat. Menunggu baterai jadul di-cas, menggunakan card reader untuk memindahkan foto, hingga sensasi membalik layar lipat pada handycam memberikan pengalaman yang terasa lebih nyata di tengah dunia yang serba instan.
“Pakai digicam itu seru karena hasilnya unpredictable. Pas ditransfer ke HP, baru deh dapet surprise-nya. Gak perlu repot-repot edit pakai filter lagi, mentahannya udah langsung siap post,” Aisyah (19), seorang mahasiswi komunikasi di Bengkulu.
‘Harta Karun’ yang Bikin Pasar Loak Digital Meroket
Fenomena ini otomatis memicu lonjakan drastis pada pasar kamera bekas. Tagar seperti #DigicamIndonesia di media sosial kini telah mengumpulkan jutaan penayangan. Toko-toko thrifting kamera di Instagram dan e-commerce bahkan sering kehabisan stok dalam hitungan menit setelah mengunggah barang dagangan mereka.
Merek-merek lawas yang sempat kehilangan pamor seperti Sony Cyber-shot, Canon IXY, hingga Olympus Camedia kini kembali dicari bak emas batangan. Menariknya, tren ini juga menjadi alternatif ramah kantong bagi mahasiswa. Dibandingkan harus membeli kamera profesional seharga belasan juta rupiah, satu unit digicam fungsional masih bisa didapatkan mulai dari harga Rp300 ribuan jika pintar berburu di pasar loak.
Bagi kamu yang tertarik untuk ikutan tren ini, langkah terbaik adalah memulainya dengan membongkar gudang atau lemari orang tua di rumah. Siapa tahu, ada “harta karun” berdebu yang masih berfungsi normal dan siap dipakai untuk nongkrong di kampus minggu ini.
Muhammad Afif Al Ghani (D1E023053)

Leave a Reply